BPBD Malang Waspadai Pergeseran Titik Kekeringan dan Ancaman Karhutla
![]() |
| Foto ilustrasi. Dok. BPBD Kabupaten Malang |
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mewaspadai fenomena pergeseran titik rawan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) menjelang musim kemarau tahun ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Malang Zainuddin mengatakan, daerah rawan kekeringan atau krisis air bersih di Kabupaten Malang masih didominasi kategori rawan sedang. Namun, sejumlah titik rawan tinggi teridentifikasi berada di wilayah Malang Selatan dan sebagian Malang Barat.
Selain itu, BPBD mencatat adanya fenomena baru berupa pergeseran lokasi krisis air bersih. Jika sebelumnya kekeringan terpantau di wilayah timur Kecamatan Singosari, kini bergeser ke wilayah barat.
“Ada fenomena baru kekurangan air di timur Singosari, terutama Dengkol dan Blandit, tapi tahun kemarin beralih ke barat di Klampok,” kata Zainuddin.
Menurut dia, wilayah yang menjadi perhatian utama meliputi Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, Ampelgading, serta sebagian wilayah Ngantang dan Kasembon. Daerah-daerah tersebut dinilai rentan karena memiliki keterbatasan sumber air dan sangat dipengaruhi musim kemarau panjang.
BPBD juga mencermati tren perubahan pola kerawanan, baik untuk kekeringan maupun karhutla. Jika sebelumnya ancaman karhutla terkonsentrasi di kawasan Gunung Arjuno, kini kewaspadaan diperluas ke Kecamatan Wajak dan Tajinan yang memiliki hamparan lahan tebu berpotensi terbakar.
Di sisi lain, wilayah Poncokusumo yang berbatasan dengan Kabupaten Lumajang juga menjadi perhatian setelah tahun lalu terjadi karhutla di kawasan Gunung Bromo.
Menghadapi potensi itu, BPBD menyiapkan pusat pengendalian dan operasi serta memperkuat tim reaksi cepat bersama relawan di berbagai wilayah. Pelaporan kejadian kekeringan maupun kebakaran juga disiagakan selama 1x24 jam.
“Pertengahan tahun ini memasuki musim kemarau. BPBD menyiapkan pusat pengendalian dan operasi, serta tim reaksi cepat diperkuat oleh relawan di wilayah. Kami menerima laporan dari masyarakat dan relawan apabila ada kekeringan dan kebakaran 1x24 jam,” ujarnya.
Meski hingga kini belum ada laporan kekurangan air bersih maupun karhutla, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan. Salah satu upaya mitigasi yang terus digalakkan adalah kerja bakti rutin setiap Selasa dan Jumat untuk mengurangi risiko bencana.
Zainuddin menyebut ketersediaan air saat ini masih relatif aman. Namun, seluruh pihak diminta tidak lengah mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan imbauan potensi kekeringan.
“Stok air masih cukup, semoga ke depan tetap seperti itu,” katanya.
BPBD Kabupaten Malang, lanjut dia, telah menyiapkan langkah antisipasi terpadu berbasis pemetaan desa rawan kekeringan dan krisis air bersih sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026.
