Meski Surplus Produksi, Bulog Malang Janji Serap Beras Petani
![]() |
| Stok beras di gudang Bulog Malang melimpah. Foto: Bulog Malang |
Perum Bulog Cabang Malang, Jawa Timur, memastikan siap menyerap hasil panen petani yang belum terserap pasar di tengah surplus produksi beras di Jatim dan nasional.
"Bulog siap menyerap beras petani yang belum terserap pasar, tentu dengan syarat kualitas yang sudah ditetapkan seperti kadar air, tingkat patahan, dan HPP GKP Rp 6.500 per kilogram," tegas Kepala Bulog Cabang Malang M. Nurjuliansyah Rachman, Selasa (19/5).
Ia mengungkapkan produksi beras di Jatim dan Malang menunjukkan tren meningkat. Bahkan, produksi nasional surplus mencapai setara 5,3 juta ton beras. Sesuai data Angka Tetap BPS 2025, lanjutnya, luas panen di Jatim mencapai 1,84 juta hektare dengan produksi 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah itu naik 12,60 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 9,77 juta ton.
Bahkan, rilis BPS per 4 Mei 2026 menyebutkan potensi produksi padi Januari-Juni 2026 diperkirakan mencapai 6,62 juta ton GKG atau meningkat sekitar 5,28 persen dibanding periode sama tahun lalu.
"Peningkatan produksi harus diimbangi keberadaan off taker agar hasil panen petani tetap terserap. Karena itu, Bulog hadir untuk memastikan stabilitas penyerapan beras di tingkat petani," katanya.
Ia menegaskan wilayah kerja Bulog Malang yang meliputi Malang Raya, Pasuruan, serta daerah sekitar siap melakukan penyerapan secara maksimal selama musim panen berlangsung.
Sampai pertengahan Mei 2026, Bulog Cabang Malang sudah menyerap sekitar 70 ribu ton beras dari target pengadaan tahun ini sebesar 76 ribu ton. Angka tersebut meningkat sekitar 30 persen dibanding capaian tahun sebelumnya.
Pada 2025 lalu, Bulog Malang bahkan mampu menyerap lebih dari 61 ribu ton beras atau mencapai 106 persen dari target. Capaian itu menjadi salah satu yang tertinggi di Jatim.
Kendati demikian, ia mengatakan masih ada sejumlah tantangan di sektor pertanian dan pascapanen. Salah satunya, yakni keterbatasan alat modern seperti combine harvester, dryer, hingga fasilitas penggilingan berskala besar.
“Potensi petani dan penggilingan lokal sebenarnya besar. Tapi jumlah alat modern masih terbatas dan kapasitasnya belum besar. Fasilitas pascapanen juga masih minim. Ini yang perlu didorong agar mereka bisa naik kelas,” ujarnya.
Karena itu, Bulog terus menggandeng penggilingan lokal agar mampu berkembang dan meningkatkan kualitas produksi. Menurutnya, keberadaan Bulog bukan sekadar membeli hasil panen, tetapi juga memperkuat ekosistem pangan secara berkelanjutan.
“Kami mengajak petani lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi. Hasil panen sebaiknya juga diinvestasikan untuk alat pertanian modern. Dengan begitu, penyerapan hasil panen bisa lebih optimal dan kualitasnya meningkat,” pungkasnya.
