Update

Kasus Suspek Campak di Kota Malang Meningkat

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif. Foto: Maghfirotul Hasanah

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menemukan sekitar 100 kasus suspek campak yang tersebar di 16 puskesmas hingga Maret 2026. Lonjakan kasus pada anak ini menjadi perhatian serius.

Data profil kesehatan menunjukkan tren peningkatan kasus campak dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022 tercatat 48 kasus, naik menjadi 107 kasus pada 2023, dan kembali meningkat menjadi 125 kasus pada 2024.

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, mengatakan seluruh temuan masih dalam tahap verifikasi. Sampel kasus suspek telah dikirim ke laboratorium pusat untuk memastikan diagnosis.

Menyikapi lonjakan tersebut, Dinkes menetapkan status siaga. Fasilitas layanan kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan, sementara tenaga medis diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) di puskesmas, rumah sakit, hingga laboratorium.

Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menilai langkah teknis saja belum cukup. Ia menekankan pentingnya edukasi publik, khususnya terkait imunisasi sebagai upaya utama pencegahan campak.

Menurutnya, masih ada kesenjangan pemahaman masyarakat terkait penyakit menular dan pentingnya vaksinasi sejak dini. Hal ini berpotensi menghambat pengendalian kasus.

“Jika satu strategi tidak berhasil, harus dicari cara lain agar edukasi benar-benar diterima masyarakat,” ujarnya.

Pemkot Malang kini dihadapkan pada tantangan mengendalikan potensi penyebaran sekaligus memperkuat komunikasi publik. Tanpa peningkatan edukasi dan cakupan imunisasi, status siaga dinilai berisiko menjadi langkah reaktif semata.

Saat ini, pemantauan terus dilakukan sambil menyiapkan langkah antisipatif guna mencegah penyebaran lebih luas.

Posting Komentar